Aku bukan ahli surga
yang mampu mencipta bait-bait aksara yang bernuansa agama.
Bukan pula seorang pujangga
yang bisa merajah kata seindah sang penyair telaga sastra.
Aku juga bukan ahli santri
yang pandai mengalunkan nada dawai-dawai aksara beraroma surgawi.
atau seorang pelukis yang mampu menyulam pelangi dengan kata indah yang ber’untai.
Disini, namun hati berharap akan munajad cinta bertasbih
yang tlah ku kupetik dari nada alunan rasa.
setitik rindu yang tlah tersemat dari palung qalbu
teriring lantunan sanjungan do’a d’oa.
Adalah yang slalu merindukanmu
Adalah yang slalu merindukanmu
meski tanpa terbait kata indah yang terukir di nawala cinta.
meski tanpa senandung yang mengalun syahdu
meski tanpa senandung yang mengalun syahdu
dari ubun-ubun menggema terdengar diseluruh dunìa.
Namun tlah ku lafazkan cintamu bersama hembusan nafasku
agar engkau mampu menyentuh letihku.
dan engkau bisa menatap dalam menyentuh jasadku.
dan engkau bisa menatap dalam menyentuh jasadku.