Senin, 27 Agustus 2012

Mahabbah Cintaku

Hanya Tuhan saja yang bisa beriku kesempatan untuk aku hidup di dunia ini, hidup bak kembala kehilangan gembalanya. Aku terdiam. . . , tak lagi kubertanya "kenapa harus aku?", pertanyaan itu tidak hanya menunjukan betapa aku tak terima atas apa yang ditakdirkan-Nya untukku, tapi juga bukti kalau aku begitu bodoh, tak pintar me-manage amarahku.

Maafkan aku yang selalu saja berburuk sangka pada-Mu, tak pernah berpikir kalau Engkau sudah terlalu baik padaku, maafkanlah hamba-Mu yang hina ini. Sedikitpun tak ada maksud untuk membangkang pada-Mu.

Kini aku sadar. . . seharusnya aku bisa menerima semua ini, seperti aku menerima dengan tangan terbuka saat bahagia menyapa, harusnya begitu. maafkanlah aku!

Pandanglah aku dengan tatapan mahabah cinta-Mu yang begitu luar biasa, agar aku menjadi hamba yang luar biasa. Sekarang, tak banyak inginku, aku hanya ingin apa yang Engkau inginkan. Tak pernah kuinginkan sesuatu apapun itu kecuali apa yang Engkau inginkan...terimalah Mahabah cintaku untuk-Mu Ilahi Rabbi. . . .

Cukuplah Allah yang menjadi penolongku.
Hasbiyallah wa ni'mal wakil. . . .

Minggu, 26 Agustus 2012

Dream Away

Agar semangat hidup kembali bersinar, cobalah kunjungi tempat-tempat outdoor seperti: taman, pantai, dan banyak lagi yang lainnya. Lalu biarkan pikiran anda berlayar ke alam khayal.

Menurut Dennid Greenberger, PhD penulis Mind Over Mood, "Berkhayal merupakan cara ampuh untuk "meliburkan" pikiran anda sejenak. Anda dapat meluruhkan rasa stress sekaligus menyetor kembali energi baru pada otak."

Jika pikiran negatif tiba-tiba menghantui, segera tatap barisan awan di langit, lalu cobalah berimajinasi dengan bentuk-bentuk awan tersebut. tanpa disadari, terapi ini dapat membuat diri anda kembali tenang.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat. amiin. . . .



Sabtu, 25 Agustus 2012

Kesenangan yang Membahagiakan

Kalau harus dituruti setiap keinginan, seluruh usia kita tak cukup untuk memenuhinya. Selalu saja ada yang kita inginkan. kalau kebahagiaan itu letaknya pada gemerlapnya dunia, seluruh isi lautan tak akan sanggup memenuhi mimpi-mimpi kita, ambisi, dan angan-angan kita.

Ibarat api, nafsu itu membakar sehingga hati kita menjadi abunya.

Betapa banyak orang yang makmur hidupnya, tapi hari-harinya dipenuhi oleh keluh-kesah yang tak berkesudahan. Ada perasaan hampa dibalik taman-taman indah yang berhias dengan megah. Ada yang merasa kesepian di tengah ramainya hiruk-pikuk dunia. Ada kepedihan yang mengusik hati diantara hingar-bingarnya musik  yang menghibur.

Tempat hiburan gemerlap hanya menawarkan hidup yang hampa, tanpa makna. Sekedar mencari penawar hati yang dilanda kegersangan, berharap terlepas beban dijiwa, tapi kembali dengan jiwa yang lupa, karena terlena oleh gemerlapnya.

Jiwa-jiwa yang penat itu, apakah sebabnya?

Harta, mereka punya. Uang pun berlebih jumlahnya. Begitu berlebih sampai menggelisahkan hati.

Teringat dengan sabda Nabi., "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kaya akan jiwa,"  (Muttafaqun 'Alaih).

Jiwa yang miskin akan terpenjara oleh harta, selalu merasa was-was dengan apa yang dimilikinya. Tak pernah membiarkan pengakuan lepas dari dirinya, sehingga jiwanya tak menemukan ketenangan. maka, berbahagialah orang yang merdeka hatinya, kaya jiwanya. Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan, "Berbahagialah orang yang rendah hatinya, halal penghasilannya, bersih jiwanya, dan mulia akhlaknya. Orang seperti itu akan menafkahkan hartanya sementara menahan kelebihan ucapannya, menjauhkan kejahatan dirinya dari orang lain, mengikuti sunnah dan tidak termasuk ke dalam kelompok pembuat bid'ah."

Memberi tidak membuat kita kehilangan, seperti halnya pupuk ynag menyuburkan tanaman. "Mintalah curahan rizeki Allah dengan banyak bersedekah."

Kadang keinginan itu sudah ada, tapi terpatahkan oleh rasa malu karena sedikitnya pemberian. Tangan kita enggan bergerak karena merasa jumlahnya tak cukup layak. Ingin mengulurkan bantuan, tapi surut menyampaikan karena tak sebanding dengan kebutuhan. Padahal sedikit apapun, ia tetap bernilai labih banyak daripada tidak sama sekali.

Sesungguhnya adakala kekayaan itu diberikan berlimpah oleh Allah karena hendak memanjakan kita, Ia biarkan kita dalam kelalaian, sampai tersadar atau tetap lupa. Adakalanya Allah melimpahkan harta kepada kita sebagai keistimewaan agar dapat dinikmati orang lain. Nikmat itu akan tetap diberikan kepada kita, apabila ada yang kita sisihkan untuk kebahagiaan orang lain, atau sekedar membebaskan mereka dari kesedihan.

Sekali lagi mari kita dengar nasihat dari Ali bin Abi Thalib, "Allah mengistimewakan sebagian para hamba-Nya dengan anugerah kekayaan dari-Nya agar dapat dinikmati oleh hamba-hamba-Nya yang lain. Maka Ia membiarkan harta itu ditangan mereka selama mereka mau menggunakannya untuk kepentingan orang banyak. tetapi, jika mereka hanya menggenggamnya untuk diri sendiri, niscaya Ia mencabutnya dari mereka dan memindahkannya kepada yang lain."

Semoga dapat kita renungkan bersama.... 

  

Kamis, 23 Agustus 2012

Risalah Cinta

Untukmu yang pernah singgah dihatiku, simaklah ini. Sungguh! Tiada dusta dihatiku :

Kucintai kau tanpa keraguan di dalamnya
Padahal, kebanyakan cinta hanyalah fatamorgana
Ingin ku katakan kepadamu dengan gamblang dan tulus
Cintaku padamu terukir lahir dan halus

Kala dalam jiwaku tertanam sebuah kebencian
Kucabik seluruh tirai penutupnya dan kubuang
Sungguh! tiada yang kuinginkan darimu selain cinta sejati
Sungguh! Tiada yang kuucapkan kepadamu kecuali cinta hakiki

Saat kutenggelam dalam samudra cinta
Hamparan bumi seoleh kering binasa
Manusia layaknya buih-buih dilautan
Penghuni mayapada layaknya lalat-lalat beterbangan

...Bicara tentang cinta memang tak pernah habis dibahas, cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tidak ada kata yang mampu melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikatnya, tak bisa ditemukan selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta tak dimusuhi agama dan tak dilarang syari'at-Nya. Cinta adalah urusan hati, sementara hati adalah urusan Illahi.....

Cintaku padamu abadi sepanjang zaman
Tak lebih tak kurang oleh alasan
Cintaku tak beralasan kecuali keinginan mencinta
Cintaku tak bersebab yang dimengerti manusia

Jika cintamu tak beralasan selain ia yang kau cinta
Maka ia nyata, tak kan lenyap selamanya
Jika cintamu digerakkan oleh suatu alasan
Maka ia akan sirna bersama sirnanya alasan

Rabu, 22 Agustus 2012

Satu Nama Tetap di Hati

Ada sebuah nama pada suatu masa yang lalu, pernah memberi warna indah di setiap lembar kanvas kehidupan, hingga saat ini masih kuabadikan dalam hati. Tentang suatu rasa dalam satu cinta, dan itu hanya kita yang tahu.

Walau akhir ini, seakan terpisah oleh masa dan suasana tak' dipinta, semua berakhir sebelum dimulai. Namun percayalah! kasihku kepadamu tak pernah berubah, walau kanvas yang pernah kau warnai telah usang tergerus waktu.

Tak pernah menyangka, hanya berusaha berbaik sangka, sekedar menjaga hati agar tak jauh terluka. Khawatir terpijak jalan yang belum semestinya, bukan mendulang pahala malah berbalas murka-Nya. Na'udzubillah. Tapi satu keyakinan, bahwa semua akan indah pada waktu yang telah ditentukan.

"Tlah kutemui
Tapi ku tak tahu pasti rencana Illahi
Apakah dia kan kumiliki

Add caption

Tidak sekali dinodai nafsu
Akan kubatasi dengan syariat-Mu
Jika dirinya bukan untukku
Ridha hatiku dengan ketentuan-Mu"

Segenggam Garam

Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirudung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya masam. Tamu itu seperti orang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Orang tua bijak itu mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan, "Coba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya..." ujar pak tua.

Lalu anak muda itu meminumnya dan mengatakan, "Pahit, pahit sekali", jawab anak muda itu sambil meludah kesamping karena tidak kuat menahan rasa pahit itu.

Pak tua itu pun tersenyum. Ia lalu mengajak anak muda itu untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu jalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang sangat jernih dan tenang.

Pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya permukaan air hingga tercipta gelombang riak air, yang mengusik ketenangan telaga itu. "coba ambil air dari telaga itu, dan minumlah!" saat pemuda itu selesai meneguk air, orang tua itu kembali bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar", sahut anak muda. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu", tanya orang tua itu lagi. "tidak", jawab si anak muda.

Dengan penuh bijak pak tua itu menepuk-nepuk punggung anak muda tersebut. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu, "Anak muda dengarlah, pahit kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."

"Tapi pahit yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan, tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan pahit dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Orang tua meneruskan nasihatnya, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kau menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar pada hari itu. Dan orang tua bijak itu kembali menyimpan "Segenggam Garam", untuk anak muda lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa. 

Believe It

Itulah kenyataan yang tak dapat kudustai
Kala kesedihan menjadi taman hati
Kulafadzkan nama-Mu yang suci
Aku yakin,
Kau kan datang menyingkap kelam dihati

Terkadang memang tak mudah untuk memahami skenario-Mu, Tuhan. . . .

Selasa, 21 Agustus 2012

Jelita pun kan Sirna

Sama dan beda. Sama, kita terlahir sebagai manusia, dimata Tuhan kita semua sama kecuali takwanya. Beda, karena sejatinya memang tidak ada yang sama, namun jangan jadikan itu sebagai suatu kejanggalan, karena perbedaan itu adalah rahmat.

Allah itu Maha Adil, harus percaya itu. Teman sejati yang tak pernah meninggalkanmu walau pun sedetik, Dia lebih dekat dari urat nadimu. Kita saja yang terkadang lupa akan hadir-Nya.

Tak sepantasnya manusia itu sombong, kerupawanan bukan takaran baiknya seseorang dan sebaliknya "buruk rupa" bukan berarti hina. Sadarlah! jangan melihat sebuah buku hanya dari cover saja, tapi baca dulu isinya dan pahami pesan yang tersirat di dalamnya. Jika Ia berkehendak, Jelita pun kan sirna, dalam sekejap.

Sudahkah Anda bersyukur atas hidup Anda? Jangan selalu melihat ke atas dan mengeluh karena hidup tidak seperti yang Anda inginkan. Belajarlah mengucap syukur walau dalam keadaan sulit, karena masih banyak yang hidupnya jauh lebih sulit dan buruk dari kita.

"Bahwa bukan keindahan fisik yang utama, tapi akhlak dan perilakunya. Bukan pula kecantikan wajah yang melenakan, namun ketawadhu’an yang memikat jiwa. Betapa semua itu akan menjadi aura yang terpancar dan menjadikan sosok wanita shalihah seperti mutiara…."

Tentang Paku

Suatu saat ada seorang pria yang sangat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah pria itu, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dipagar belakang, setiap kali ia marah.

Pada hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali ia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu semakin berkurang setiap harinya. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu persatu paku setiap hari dimana ia tidak marah.

Hari-hari kemudian berlalu dan anak laki-laki itu akhirnnya memberitahu kepada ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang pagar ini. pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini dihati orang lain."

Sang ayah pun melanjutkan, "Kamu bisa saja meminta maaf atas kemarahanmu, tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, bekas luka itu akan tetap ada."  

Senin, 20 Agustus 2012

Segurat Catatan Untuk-Mu

Terkadang aku ingin menawar
Tapi semua sudah harga pasti
Entah sampai dimana batas kesabaranku
Dan semoga kesabaranku tak ada batasnya . . . ,
Ya Allah . . . . Tuntun Aku untuk dapat memetik mutiara hikmah
Dibalik semua kejadian ini
Tiupkan kepadaku sebuah semangat kehidupan yang tiada batas
Agar aku dapat tegar dan ikhlas dalam menjalani garis yang telah KAU goreskan untukku
Jadikan Aku sebagai Hamba-Mu yang terpilih
Hamba yang selalu memanjatkan rasa syukur
Entah dikala bahagia ataupun duka nestapa menghimpitku
Ya Allah... aku tahu, Kau dapat melihat dan membaca pikiranku
Betapa ruang jiwaku hampa
Tak jarang mata jernih ini berkaca
hari terus bergulir berganti tahun
Menggoreskan kisah
yang bukan hanya satu warna
Ikhlas aku terima sebagai pengalaman..
Ya Allah..., Betapa panjang
harus ku'dekap kehidupan ini
Untuk sampai ke'haribaanmu..
Betapa jauh sudah
langkah kakiku berpijak dibumi-Mu.
Ya Allah..., tuntun langkahku
agar sampai pada jalan-Mu yang indah
Agar tak ada sesal datang terlambat..
Amiin . . . .

Nazam Lebaran

Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar walillahilham. . . .

Gema takbir tlah dikumandangkan
Sahut menyahut memecah kesunyian
Sakit tiada lagi terasa
Sedih pun sirnalah sudah
Tlah tiba hari kemenangan
Semua hanyut dalam keriang-gembiraan
Bukan mawar jika tak berduri
Bukan gading jika tak retak
Bukan manusia jika tak bersalah
Setulus hati ku ucapkan
Mohon dimaafkan atas segala kekhilafan

Taqqaballahu minna wa minkum
Semoga meraih kemenangan
Minal 'aidin wal fa idzin
Selamat Idul Fitri 1433 H
Mohon maaf lahir dan bathin