Hanya Tuhan saja
yang bisa beriku kesempatan untuk aku hidup di dunia ini, hidup bak
kembala kehilangan gembalanya. Aku terdiam. . . , tak lagi kubertanya
"kenapa harus aku?", pertanyaan itu tidak hanya menunjukan betapa aku
tak terima atas apa yang ditakdirkan-Nya untukku, tapi juga bukti kalau
aku begitu bodoh, tak pintar me-manage amarahku.
Maafkan aku yang selalu saja berburuk sangka pada-Mu, tak pernah berpikir kalau Engkau sudah terlalu baik padaku, maafkanlah hamba-Mu yang hina ini. Sedikitpun tak ada maksud untuk membangkang pada-Mu.
Kini aku sadar. . . seharusnya aku bisa menerima semua ini, seperti aku menerima dengan tangan terbuka saat bahagia menyapa, harusnya begitu. maafkanlah aku!
Pandanglah aku dengan tatapan mahabah cinta-Mu yang begitu luar biasa, agar aku menjadi hamba yang luar biasa. Sekarang, tak banyak inginku, aku hanya ingin apa yang Engkau inginkan. Tak pernah kuinginkan sesuatu apapun itu kecuali apa yang Engkau inginkan...terimalah Mahabah cintaku untuk-Mu Ilahi Rabbi. . . .
Cukuplah Allah yang menjadi penolongku.
Hasbiyallah wa ni'mal wakil. . . .
Maafkan aku yang selalu saja berburuk sangka pada-Mu, tak pernah berpikir kalau Engkau sudah terlalu baik padaku, maafkanlah hamba-Mu yang hina ini. Sedikitpun tak ada maksud untuk membangkang pada-Mu.
Kini aku sadar. . . seharusnya aku bisa menerima semua ini, seperti aku menerima dengan tangan terbuka saat bahagia menyapa, harusnya begitu. maafkanlah aku!
Pandanglah aku dengan tatapan mahabah cinta-Mu yang begitu luar biasa, agar aku menjadi hamba yang luar biasa. Sekarang, tak banyak inginku, aku hanya ingin apa yang Engkau inginkan. Tak pernah kuinginkan sesuatu apapun itu kecuali apa yang Engkau inginkan...terimalah Mahabah cintaku untuk-Mu Ilahi Rabbi. . . .
Cukuplah Allah yang menjadi penolongku.
Hasbiyallah wa ni'mal wakil. . . .



