Selasa, 30 April 2013

Jangan Tanya Mengapa

Jakarta, 30 April 2013
Selasa, 22:12 WIB


Bermula dari sebuah keterpaksaan, demi kepatuhan semata kepada kedua orang tua, tapi kini seiring berjalannya waktu, aku mengerti. Semua tidak lain adalah demi kebaikanku, demi kebaikan semuanya, tidak hanya demi aku, dan semuanya kini bermuara pada sebuah kesyukuran.

Semula menganggap, aku disini seperti orang yang tersesat di jalan yang benar. Jalannya benar, tapi entah kenapa - aku merasa tersesat berada di sini. Butuh waktu untuk semua itu. . . . .

Tak mudah untuk melepas sesuatu yang tadinya kugenggam dengan sangat erat, terlebih karena aku memperolehnya penuh dengan perjuangan total. Kulepaskan genggaman itu. Kucoba untuk melaluinya tanpa genggaman yang erat, hanya bermodalkan kepatuhan semata.

Aku benci setiap kali ada pertanyaan "kenapa/mengapa?" mendarat untukku, Tuhan aku bingung untuk menjawab semuanya. Aku tak tau jawaban pastinya, bahkan memang aku tak tau harus jawab apa. Tapi selalu kubilang, "cukup. Jangan tanya kenapa atau mengapa, ini sudah Jalan-Nya, Sang Sutradara telah menuliskankan aku untuk berperan seperti ini, dan aku sebagai Aktris mencoba untuk berperan sebaik mungkin sesuai tuntutan Skenario-Nya." :)

Senin, 22 April 2013

Bersabar Untuk Sebuah Keindahan

Dalam Hidup Ini 

Terkadang kita harus menangis, agar kita tahu betapa berartinya setetes airmata.

Terkadang kita harus sakit, agar kita tahu betapa indahnya nikmat sehat itu..

Terkadang kita harus merasakan kesulitan hidup,
agar kita tahu betapa berartinya setiap tetes keringat kita..

Dan terkadang kita harus kehilangan dan sendiri,
agar kita tahu betapa berartinya kehadiran seseorang dalam hidup kita..

Belajar untuk senantiasa berbaik sangka kepada ALLAH.
Ketika harapan tidak/belum sesuai kenyataan..

ALLAH Maha Tahu apa yang kita butuhkan.

Tidak perlu sedih apalagi kecewa..
Karena terkadang apa yang dilihat mata adalah fana..
Dan yang bisa menyenangkan hati hanyalah sementara..

Jangan pernah putus asa dan yakinlah
ALLAH sudah menyiapkan hal terindah bagi kita pada waktunya..
Insya ALLAH..

Aamiin

Namamu

Mungkin kau tak pernah tahu apa yang kutulis disini
Yang terkadang tak tereja di setiap syairnya
Yang takkan pernah selesai kurangkai untukmu
Dan tak tak pernah lelah kugoreskan di tiap aksaranya
Hingga kata yang kupintal menjadikan namamu

Izinkan aku mencintaimu meski dalam goresan pena
Aku ingin mencintaimu layaknya mentari
Yang bergulir sempurna dari kanan ke kiri
Aku ingin mencintaimu seperti udara
Yang tak terlihat namun dapat kau rasa


Mungkin bagimu rinduku tak kasat mata
Rindu yang tak terbaca yang tak kau pahami maknanya
Biarkanlah aku simpan dan kurajut dalam hati
 

Tentangmu...
Pada sedikit kisah hidupmu yang pernah kau bagi cerita
Pada sekeping hatimu yang rela kutumbuhi bunga
 

Tentangmu...
Namamu yang selalu menggetarkan sekeping hatiku...

Minggu, 21 April 2013

Rencana Allah Tetap yang Terbaik

Jakarta, 21 April 2013
Sabtu, 23:45

Bismilllahirrahmanirrahiim. . . . .

Ketika kita menginginkan sesuatu yang tak kunjung DIDAPATKAN.
Maka Allah meminta kita untuk sabar MENUNGGU.

Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA
Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .

Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN.
Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.

Kita punya RENCANA.
Allah juga punya RENCANA.
Akan tetapi sehebat apapun kita merencanakan sesuatu.
Tetap rencana Allah adalah sebaik-baiknya rancangan.

Ingatlah..
Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan..
Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan..
Allah selalu memberikan senyum dibalik kesedihan.
Allah selalu memberikan Harapan dibalik keputus-asaan..

Yakinlah..
Kebahagiaan itu akan hadir juga pada waktunya.
Sesuai rencana-Nya.
Sesuai rancangan-Nya.
Dan tak ada alasan bagi kita untuk meragukan-Nya.

Aamiin



Salam damai akan ketentuan-Nya
Khaira Sahl


Nasehat Ibu

Suatu pagi seorang anak gadis berkata pada ibunya:
“Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, beritahu aku caranya “
“ Dengan tatapan lembut dan senyum haru, sang ibu menjawab:
“ Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik”
“ Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapapun”
“ Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain..”
“ Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan umtuk fakir miskin”
“ Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah di perbuat orang kepadamu.”
“ Untuk wajah putih bercahaya, bersihkan kekotoran batin…”


Anakku…
Janganlah sombong akan kecantikan fisik, karena itu akan pudar oleh waktu.
Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian….

Jika anda BENAR, maka anda tidak perlu marah.
Jika anda SALAH, maka anda wajib minta maaf.

Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.
Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT
Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN
Kesabaran dengan Allah adalah IMAN.

Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.
Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.
Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN.

Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat anda pedih atau lebih baik.
Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.
Pilihan ada pada anda, apakah anda akan memilih menjadi korban atau pemenang.

Carilah hati yang indah, bukan wajah yang cantik.
Hal hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal hal yang baik akan selalu indah…..

Tahukah kita, mengapa Allah menciptakan ruang antar jari tangan kita?
Agar seseorang yang menurut kita special akan datang dan mengisi ruang tersebut, dengan memegang tangan kita selamanya..

Selamat berjuang menyemai dan menanam bibit bibit kebajikan…

Ingat!
kesempatan tidak selalu membuat hidup kita lebih baik,
tapi perubahan diri kita yang mengubah segalanya…..

Jumat, 19 April 2013

Tak Ada yang Sempurna di Dunia Ini

Jakarta, 01:23 WIB.
Sabtu, 16 September 2011

Bismillahirrahmanirrahiim. . . .
Bagi-Mu segala puji, Tuhan penguasa jagad raya, Pemilik Kasih Yang Sempurna. Izinkan aku berkisah. 

Andai saja bisa kupilih sendiri nasib yang akan kujalani dikehidupanku? yaaah andai saja bisa, sungguh..., aku tak memilih semua ini terjadi dalam hidupku. Namun apa kenyataannya, ada perbedaan antara kehendakku dengan kehendak Tuhanku.

Bukan berarti aku tak bersyukur...

Tapi sejujurnya, kejadian ini sungguh membuatku ke titik nol dalam kehidupanku, kupikir ini akhir kehidupanku. Kesedihan menderaku setiap saat mengingat hal itu, saat terlalu banyaknya suara "sumbang" menilaiku sampai sebegitu menyayat hati dan menusuk masuk ketelingaku. Mereka yang jahat, tak berperasaan, atau hanya perasaanku semata yang terlalu sensitif dan mungkin belum siap dengan semua kejadian ini. yaaaah..., butuh waktu lama untukku beradaptasi dengan semua ini. lamban laun, mungkin bisa. . . .

Tuhan. . . , mengapa tidak Kau tulikan saja telingaku ini, agar suara "sumbang" mereka tak lagi bisa kudengar.

Tuhanku Yang Maha Baik, Pemilik Keputusan Terbaik.
Tidakkah Kau iba dengan apa yang kualami ini, Syafakillah. . . . Berilah aku kesembuhan dari sisi-Mu, kesembuhan yang tidak akan meninggalkan rasa sakit setelahnya.

Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ampunilah dosa-dosaku, terimalah segala amal ibadahku, maafkanlah mereka yang telah melontarkan kata "sumbang" untukku, bukakanlah mata hati mereka yang selalu melihatku dengan sebelah mata, mencemooh, menatapku dengan pandangan aneh, jijik, bahkan tak banyak ucapan mereka seakan merajam hatiku hingga remuk redam. Aku tidak marah dengan mereka, hanya sedikit sedih.
"Tuhanku Yang Maha Segalanya. Aku memang tak sempurna dimata para hamba-Mu. Tapi, ijinkan aku sempurna dihadapan-Mu." :)
Aku yakin, bahkan teramat sangat kuyakin bahwa janji-Mu adalah benar selalu. Setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali pikun dan kematian.

Ya Tuhanku kepada-Mu-lah segalanya bermuara.
Hanya kepada-Mu-lah tempat kumengadu, tempatku bersandar diri untuk mencurahkan isi hati, menyerahkan segala kegundahan dan kesedihan yang kerap menggelayut di hati.  Bimbing aku agar selalu dalam jalan-Mu, Kumuarakan suara hatiku hanya kepada-Mu.

Kini kuubah pintaku pada-Mu. Tak kan lagi kuminta pada-Mu agar diringankan semua ini, tapi kali ini kumemohon, Kuatkanlah tulang punggungku ini agar aku dapat memikul segala ujian dan cobaan dari-Mu.

Dalam termangu aku masih menyebut Nama-Mu
Tuhanku, jadikanlah hamba-Mu ini hamba yang berjiwa tegar seperti Rasul-Mu, Muhammad SAW
Jadikanlah hamba-Mu ini hamba yang sabar,  seperti Nabi Ayyub AS ketika diberi cobaan berupa penyakit.
Kukuhkanlah cintaku agar tetap terpatri pada-Mu selalu, seperti Rabi'ah al-Adawiyah.
Aku memang tak secantik Ratu Balqis
tapi bimbing aku agar sekuat Sarah, istri dari insan yang teguh Ibrahim AS.
Siapalah aku ini, manusia kerdil dihadapan-Mu.
Aku tak ubahnya sebutir pasir di padang pasir, yaah hanya sebutir pasir.
Aku tak ubahnya setetes air, diantara luasnya samudra-Mu.
Kuakui, aku memang tak sempurna seperti insan pilihan-Mu itu .
tapi, tak salah bukan?! kalau aku ingin mengambil teladan dari kisah-kisahnya dan mencontoh sifat-sifatnya.
:)

Salam Keikhlasan
Khaira Sahl


LUPUS

Pernahkah anda mendengar nama penyakit lupus? penyakit yang belum lama muncul di belahan dunia ini sangat menggemparkan banyak orang karena tidak sedikit orang yang terkena penyakit ini banyak yang meninggal dunia dan saat ini penderita penyakit lupus di dunia tercatat telah melebihi 5juta orang sungguh mengerikan bukan?

Sekilas Penjelasan Penyakit Lupus

Lupus adalah sebutan umum dari suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus.
Dalam istilah sederhana, seseorang dapat dikatakan menderita penyakit Lupus Erythematosus saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri. Lupus adalah istilah dari bahasa Latin yang berarti Serigala.

Hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi Serigala, tetapi berwarna putih.

Penyakit ini dalam ilmu kedokteran disebut Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada Lupus, tubuh menjadi overacting (terlalu) terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, Lupus disebut sebagai autoimmune disease (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan).

Dr. Rahmat Gunadi dari Fak. Kedokteran UNPAD/RSHS menjelaskan, penyakit lupus adalah penyakit sistem imunitas di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing. Reaksi sistem imunitas bisa mengenai berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah.

Lupus adalah penyakit peradangan kronis yang dapat mengenai kulit, sendi, ginjal, paru, susunan saraf dan alat tubuh lainnya. Gejala tersering adalah bercak kulit, artritis (radang sendi) sering disertai lemah badan dan demam. Perjalanan penyakit Lupus beragam dari ringan sampai berat berselang seling kambuh dan baik. Lupus terutama diderita oleh wanita terutama pada masa subur (wanita 10 kali lebih sering daripada pria).

Jenis Penyakit Lupus

  • Cutaneus Lupus : Seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit.
  • Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf.
  • Drug Induced Lupus (DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.

Penyebab Penyakit Lupus

Ada beberapa faktor seseorang yang menyebabkan terkena penyakit lupus diantaranya :
  1. Genetika >> penyakit ini dipengaruhi oleh faktor genetik dimana lupus bisa ditularkan dari orang tua kepada anaknya, kehamilan pada wanita yang menderita lupus dianggap beresiko tinggi sehingga anak yang dilahirkannya dapat terkena lupus, tetapi sebagian besar melahirkan bayinya dengan sehat dan normal, wanita hamil dengan lupus harus sering memeriksakan diri ke dokter ( konseling dan perencanaan sangat penting). Wanita lupus tang tidak ingin hamil atau sedang mengkonsumsi obat yang bisa membahayakan bayinya bisa menggunakan alat kontrasepsi, kontrasepsi oral aman bagi wanita yang menderita lupus.
  2. Lingkungan >> peneliti menyatakan bahwa faktor lingkungan sebagai pemicu lupus, faktor linghkungan ini termasuk paparan sinar ultraviolet, merokok, asap rokok, stress, racu seperti trichloroethyele dalam air sumur dan debu silika.
  3. Hormon dan Penyakit >> beberapa penelitian menemukan beberapa kolerasi antara peningkatan resiko lupus dan tingkat estrogen yang tinggi, ini salah satu penjelasan mengapa penyakit ini lebih sering menyerang wanita daripada pria , metabolisme estrogen yang abnormal dianggap sebagai faktor utama.

Gejala Penyakit Lupus

Gejala penyakit ini bervariasi tetapi ada beberapa gejala yang paling umum :
  • Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan pencernaan.
  • Gejala umumnya penderita sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.
  • Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang disebut (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
  • Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit LUPUS ini
  • Rambut yang sering rontok dan rasa lelah yang berlebihan
  • Nyeri atau bengkak pada sendi
  • Nyeri otot
  • Demam yang tidak diketahui penyebabnya
  • Nyeri dada saat berafas (pleuritis)
  • Rambut rontok
  • Jari tangan pucat atau berwarna ungu
  • Cepat lelah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kerusakan ginjal
  • Gangguan pembekuan darah
  • Sariawan
  • Adanya luka disekitar hidung atau mulut

Pencegahan Penyakit Lupus

Biasanya odipus (orang hidup dengan lupus) akan menghindari hal-hal yang dapat membuat penyakitnya kambuh dengan :
  • Menghindari stress
  • Menjaga agar tidak langsung terkena sinar matahari
  • mengurangi beban kerja yang berlebihan
  • menghindari pemakaian obat tertentu.
Menu makanan sehari-hari yang dianjurkan untuk penderita lupus adalah asupan gizi kaya kalsium, kalium, seng, vitamin B6, C, dan D. Sebaiknya penderita juga banyak memakan makanan yang kaya protein namun rendah karbohidrat.

Rabu, 17 April 2013

Segenggam Doa Untuk-Nya

Dаlаm bаhаsа kаlbu kuurаikаn segenggаm doа
memintа dаn mengibа аtаs nаmа cintа
tuk tegаr dаlаm menguаsаi gejolak hаti
Seakan tak sanggup membuat api semangat tetap berkobar
 

entаh seperti аpа yаng ku mau  
entаh seberаpа jаuh kаu berlаri
meski аdа nyаwа yаng terbuаng
ku relа . . . .


dаlаm аsа ku berdoа

kаu ingin tаhu doаku pаdа-Nyа?

" Yаа Rаbbi..
ku tаkkаn biаrkаn cintаku terbiаs oleh Kuаsаmu
ku tаkkаn pernаh tаkut atas apa yang menjadi Qada dan Qadarku


Demi Cinta.......
Demi Nаmа-Mu.....
Seberаpа besаr Kuаsаmu
Seberаpа berаt ujiаnMu

Kuhаdаpi dengаn senаng hаti
Meski Kаu utus seribu Izroil Kepаdаku.
Meski kаu luluhkаn аir nerаkа_Mu

Aku Tаk Tаkut.

Kаrnа Dia аdаlаh hаrаpаnku
Kаrnа Diа аdаlаh nyаwаku
dаn kаrenа Diаlаh....
pembаwа kаsihmu pаdаku



Minggu, 14 April 2013

Jadilah yang Terbaik, yang Ada dalam Dirimu

Terkadang.., 
Karena tak ingin menyakiti perasaan seseorang
Kamu penuhi apapun yang dia inginkan.
Tanpa kamu sadari, dirimulah yang akhirnya terluka.

Apapun yang kamu inginkan demi kebaikan, lakukanlah.
Jangan hanya ingin membuat orang lain bahagia
Sementara dirimu sendiri terluka dan menderita.

Cinta dan persahabatan memang membutuhkan pengorbanan.
Tapi kamu harus memahami dengan benar
Apa yang kamu korbankan.
Karena jika salah arah
Pengorbananmu akan sia-sia.

Ambillah beberapa perumpamaan.
Hiduplah seperti matahari yang selalu menyinari
dan tak pernah berharap balas budi.
Namun dirinya sendiri tetap kuat dan tidak hancur.

Namun andai tak bisa,
Jadilah rembulan
Walau sinarnya dari pantulan matahari namun dia mau berbagi.

Jika belum bisa, jadilah seperti bintang.
Walau tak selalu ada 
Namun senantiasa ingat dalam untaian do’a.

Jika belum mampu juga,
Cukuplah menjadi kunang-kunang
Walau menerangi dalam kesederhanaan
Namun ia mampu menghiasi kelamnya malam..

Asal jangan seperti lilin,
yang mampu menerangi 
Namun dirinya sendiri terbakar.

Jangan berusaha membuat orang lain bahagia
namun engkau sendiri sengsara.

Namun demikian...,
Tetaplah memiliki niat yang baik dan dengan cara yang baik.
Perkara hasil biarlah Allah yang menilai
dan membalas dengan cara terbaik-Nya.



Rabu, 10 April 2013

Inilah Caraku Mencintaimu

Dengan tak menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu.
Mungkin ini tak biasa,
Tapi bagiku,
Inilah cara terbaik mencintaimu.


Aku mencintaimu dengan menjauh darimu,
Bukan karena aku membencimu,
Justru karena aku sangat mencintaimu,
Dan aku ingin menjagaku juga menjagamu,
Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku.


Inilah caraku mencintaimu,
Dalam diamku,
Dalam ketulusanku,
dalam kesucianku,
dalam cara tak biasaku,

Meski sulit,
Meski berat,
Meski sakit untukku,
namun ku tahu ini pilihan terbaik

agar kita tak terlalu saling mengharap.

Karena berharap
hanya pantas pada Sang Pemberi Nafas,

Karena berharap

hanya pantas digantungkan pada Sang Pengatur Detak Jantung,
 

Pada-Nya kuharap
Dia kan menjagamu untukku

Pada-Nya kutitipkan hatimu,
Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung do'a
Agar Untukmulah segala kebaikan
Agar bersamamulah segala keindahan....


Minggu, 07 April 2013

Untukmu yang Jauh di sana

Untukmu yang jauh disana,Berdinding jarak dan waktu,
Berbatas ruang diantara kita..

Masihkah kau jaga hatimu untukku ??
Masihkah terbesit kerinduanmu padaku ??


Untukmu yang jauh disana..
Ku harap kau slalu menjaga hatimu..
Seperti disini aku menjaga hatiku..


Semoga cintamu pada_NYA
menjagamu dari angin-angin keburukan
yang mampu membuatmu lalai akan perintah_NYA..
Semoga kasihmu pada_NYA
membuatmu mampu bertahan dalam perpisahan yang panjang ini..

Jika aku disini menanti, ku harap kau disana menjaga..
Jika aku disini berdo’a, ku harap kau disana setia..


Aku tak berharap di pertemukan denganmu..
Tapi aku meminta dipersatukan dalam cinta_NYA..


Aku tak berharap kesempurnaanmu..
Kerana aku ingin melengkapinya dengan kekuranganku..


YA RABBANAA..
Satukan kami dalam naungan cinta_MU..
Dan cintakan kami pada kebaikan..
Agar cinta kami dapat menyatu menjadi kebaikan..


YA RABBANAA..
Satukan kekurangan kami dalam Ridha_MU..
Agar kekurangan itu dapat melebur menjadi kesempurnaan..


YA RABBANAA..
Yang kami inginkan hanyalah kesempurnaan cinta_MU..
Karena hanya begitulah tidak akan ada rasa terluka dan kecewa pada akhirnya..


Aamiin Ya Rabbal'alamiin..

Sabtu, 06 April 2013

Catatanku

PART TWO - HARI RASA NANO-NANO

Sabtu, 06 April 2013 (22:34 PM)

Rasanya jatah tidur malamku semakin berkurang saja, huuuuft.... hanya 3 jam, engga lebih. Langsung bergegas menuju sekolah, eyaaaaah..., aku yang katanya cuti, tapi dipanggil untuk masuk kembali. Oke, never mind. Kucoba menyelesaikan dengan keikhlasn dihati, seperti logo DEPAG "Ikhlas Beramal". :D

Rindunya aku dengan ruangan ini, buka laptop, segera input data nilai. Lagi asik-asik, Komandan Pramuka datang, debat argumen di ruangan, dimana ada aku yang butuh konsentrasi penuh saat itu. haduuuuuuuhh, Please deh.

Honor kembali turun, setelah dua bulan engga terima honor karena cuti, dan engga pernah tau berapa nominal sebenarnya yang aku terima dari sekolah ini tiap bulannya, aaaargh sudahlah, yang pasti, engga harus pusing saat pemabayaran semester tiba, uang sudah ada. :D

Alhamdulillah Allah memberiku potensi yang luar biasa + kesempatan, yang mungkin belum tentu semua orang dapatkan. Sejak duduk di kelas XI Madrasah Aliyah, aku sudah bergabung di sekolah sebagai staff (bahasa kerennya begitu, bahasa kasarnya yaa semacam jutik "juru ketik" atau kurir, hhhahaa"....). Banyak yang bilang aku dewasa sebelum waktunya, dewasa pemikirannya melebihi usianya, itu bukan aku yang menilai, tapi mayoritas guru-guru di MAN saat aku sekolah dulu. Memang diantara semua murid, usiaku terbilang cukup muda, usia-usia sepantaran aku, mereka semuanya adalah adik kelasku, bahwa banyak adik kelasku yang usianya jauh lebih "senior" dari aku. Guru-guru kerap memanggilku dan mengajak bicara mengenai psikologisku yang harus menyatu dengan mereka yang bukan seumuran, sering sekali. Aku hanya tersenyum, terkadang komentar "ga Bu, biasa aja, aku baik-baik aja ko'... hhe"..., tapi terkadang mereka sendiri yang menjawab, "waaah, malah lebih baik dia daripada mereka, lihat semangat belajarnya! ga banyak gaya, ga macem-macem, rajin, bla..blaa..blaa". Mereka terkadang berlebihan memuji dan membanding-bandingkan aku, tapi ya sudahlah, inilah aku apa adanya. :)


Jumat, 05 April 2013

Lautan Cinta Penuh Berkah

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.


Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.

Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.
Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.


Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.


Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.
Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.


Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.


Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. Benar memang, bila sudah tiada semua baru terasa, bahwa kehadirannya sangatlah berharga. :')


Kamis, 04 April 2013

Catatanku

PART ONE - HARI RASA NANO-NANO

Huuuuufft... yaaaah, kata-kata itu rasanya cukup untuk mewakili semua rasa yang terjadi hari ini. Kalau Syahrini bilang "cettaaarr", tapi kalau gue "jeddaaaaaaarr". Hari ini semua rasa melebur jadi satu, seperti permen nano-nano, manis-asam-asin ramai rasanya. hahaa".... LOL

Kamis, 04 April 2013 (22:34 WIB)

Uuuuupz..., angka yang cantik 04-04-13, menurut gue. Tidur terlalu larut semalam, membuat waktu tidur gue serasa singkaaaaaaat banget, rasanya baru tidur sebentar tapi alarm sudah berbunyi dan itu tandanya gue harus bangun - mandi - dan siap-siap capcus ke Sekolah tempat PPKT. *PPKT = Praktek Profesi Keguruan Terpadu, yaaaah semacam PKL atau PPL gitu deh.

Seperti biasa Ibu selalu mengantarku sampai depan gang rumah, "Ibuuuu..., emang udeh kaya bocah TK ye gue pake dianter-anter segala" gerutuku dalam hati. Set..set..set..., good job supirnya ga pake ngetem-ngetem nyari penumpang. Sampai jam 7:00 tepat waktu di Sekolah, ga bisa dibilang tepat waktu juga si, wong masuk setengah tujuh. whahahaaa". . . . . Sopiiir S12 ngebut, sedikit ugal-ugalan, seeeeeeeet geduuuubraaaaaaak "Alllahuuuuuu Aaakbaaaaar...." hati-hati dong bang bawa mobilnya" dengan nada jutek gue protes, sikeee ngusruk kan tuh gue, kalau kenapa-kenapa gimana coba???, gilaaa, dikira nyawa gue ada selusin apa???, Sport jantung, menguji adrenalin....

OK, Fine. Sellow aje kaya di Moscow. :D langsung masuk dijam pertama 7:10 di Kelas 7.1, slowly gue sudah ingat materinya diluar kepala, ahhhhaaaaay.  Selesai, engga ada jam lagi alias free. Ya udeh gue menuju meja piket, sambil main Onet di Samsungnya Uswah. Lumayan daripada lumanyun. whehee".....

Dreeeeereeett..., oopz HP-ku bergetar, ada sms dari Ka Bay (Baihaqi_red) rupanya, "Assalamu'alaikum..., kamu ke kampus jam berapa?", kurang lebih begitu bunyinya. "oooowh iyaaa hari ini kan mau ke kampus, ambil hasil test TOEFL kamis kemarin dan 1 lagi ada janji sama Ka Bay buat ngasih copyan Skripsi yang dipesennya hari senin yang lalu", pikirku mengingatkan agenda hari ini dalam hati. "ya sudah nanti aja lah habis Dzuhur", "Us, Ira nanti izin pulang duluan yah, mau ke kampus, ada perlu", sebagai PPKT yang baik, izin dulu dong kalau mau pulang, kaya gue. hhahaa".....

Adzan Dzuhur berkumandang. "balik duluan ya", tiba si Ozy lewat sambil pamit. Tuiiing, gue langsung nyamperin, "Zy mau ke kampus?", dijawab "iyaa", "ikut yaa, boleh kan, Ira juga mau ke kampus". "oooh ya udah, ayoo", "OK, bentar, tunggu ya ambil tas dulu", haa.., gue langsung lari dan bergegas dengan sesegera mungkin ke ruang PPKT, "daaaaaah semuanya Ira balik duluan yaa mau ke kampus, Assalamu'alaikum", pamit dong gue sama semuanya. "Iraaaa, ini cobain dulu dibeliin sama Pa Bukhori", kata Entih (Siti Fatimah_red) sambil nunjuk asinan yang menggoda. "engga entih makasih, ira bareng ozy, takut dia nungguin, udah makan aja, daaaaaaaaah semuanya". Seeeeet capcus, ngobrol dikit sepanjang perjalanan, "yaaaaahh ozy jadi tau kan tuh kerjaan gue selain sebagai mahasiswa" gumam dalam hati, biarin deh.

Berhenti di depan halaman Masjid Fatullah UIN Syarif Hidayatullah. Karena Ozy mau ke-kos-an terlebih dahulu buat ngambil Proposal skripsinya, yeaaaah dia mau bimbingan skripsi hari ini. soo, gue turun di Fatullah, shalat dzuhur dulu lah. "Makasih ya Zy, Good Luck buat Skripsinya", dan Ozy segera berlalu dengan si-merahnya. :D

Selesai Shalat Dzuhur, langsung pergi ke Gedung Pasca Sarjana "Pusat Bahasa" buat ngambil hasil test TOEFL. Dan ternyata gue telat, Diana+Do'el, Faiz Oren, Nadhien Pinky sudah tiba dari tadi rupanya. Langsung ambil hasil testnya, gue buka, daaaaaan "hhahaaa"....... parraaaaaaah....., atuh ini mah bagusan hasil yang pertama kali gue daftar masuk UIN, bedanya jauuuuh banget, kenapa gini si, rasa mau nangis tapi ngakak...", itu refleks, dan mereka bertiga (Dian, Faiz, dan Nadhien) malah ikutan ketawa, "hasil test engga lulus, kenapa tertawa penuh kemenangan gini si, pada stress dah ah". 

Ternyata di luar sana langit sedang menangis "yaaaah ujaaan", waktu menunjukan pukul 14:00 WIB. Setengah jam berlalu, 1 jam, sampai 2 jam. Akhirnya semua sepakat buat nerobos hujan, udah kaya sayur, lepek semua. "kerudung gue warnanya jadi cakep ya?" tanya si Faiz, gue dan Nadhien menoleh, "hhahaa"...... iya, segeeeer banget yaa, kaya jeruk mengkel gimana gituu". "eh bee, bsk lo kalo beli kacamata yang kaca mobil tau bee, yang ada buat ngebersiin air ujannya", ide ngeyel Nadhien buat gue, "hhhaaahaaaaa"...... gilaaaa, ga kebayang gue. kereeen yaaah?! hhahaaa", semuanya ketawa seolah ga' ngerasa lepek. Beeeeeh lappeeeer, kita mampir di Padang. "Alhamdulillah, kenyang" langsung get out melanjutkan perjalanan yang basah kuyup.  

Faiz pulang terlebih dahulu, tinggal gue dan Nadhien menunggu hujan reda di Halte Bus UIN SyaHid Jakarta. Hujannya semakin deras, "kasian si hitam manis gue di ajak ujan-ujanan, akhirnya punya ide, gue masukin dia ke dalam kantong kresek, haa"..... aman kan kalau gini", siiip. Jeeggeeeeeeerrr, petir menggelegar seolah membelah bumi, dan gue kaget bukan karena petir tapi karena si Nadhien mengang tangan gue kenceeeeeng buangeeetz, "Allahuuuuu Akbaaaar, hhaahaa"..... kalo ga ada gue, lo pegangan siapa bee?, gilaaa kenceng banget sumpah sampe merah tangan gue",  ucap gue sambil buka lengan baju sedikit, liat ceplakan tangannya si Nadhien ditangan gue yang sampe merah, "hhuuuft..., untung gue kokoh, ga kenapa-kenapa", "he'eh maaf yaa bee, gue takuuuuuuut abisnyaaa, beneraaaaan daah", kata si Nadhien sambil ngumpet di belakang gue. Dan lagi-lagi Jegggeeeeeeeeer, kilat petirnya nyata banget, "Allahuuuuu Akbaaaar, Laa Ilaha ilallah Muhammadarrasulullah, laa hawla walaa quata ila billahil aliyil adzim..." ampuuuun ya Allah, jantung gue serasa bergeser beberapa CM dari tempat asalnya, serasa mau copot.

Setelah agak reda, langsung bergegas menuju PU (Perpustakaan Umum). Tadinya mau langsung pulang saja, tapi sms Ka Bay kembali mengingatkan, dia sudah sampai Kodam rupanya dan kehujanan. Sms-an Bla..bla...bla..., akhirnya gue milih pulang naek angkot saja dari pada di bonceng Ka Bay karena dia engga bawa jas hujan. Jadi engga enak hati, sudah janji jauh-jauh hari eeeehh gatot (gagal total).

Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar kampus, terciptalah :
"Masih pantaskah aku memaki langit yang menangis tiada henti sedari tadi, padahal jauh dibatas sana ada taman yang tersenyum karena rintik airmatanya yang menyejukkan, menjadikannya jauh lebih indah dan menyegarkan. Naif mungkin?! terlalu egois untuk sekedar memakinya, demi menuruti amarah seorang manusia hina."
APTB, Busway ataupun Kopaja 85 semuanya penuh, akhirnya gue putusin buat naek busway. Gantungan, ga dapat tempat duduk, udah biasaaaaa. Sambil sms-an dengan sahabat gue, Prapto. Sms-nya yang nyebelin "tapi di dalam busway ga keujanan kaaaan?", gue bales "yaa eyaaaaalaaah..., eeeerrrgh, kalo ada di depan aku, rasa pengen unyeng-unyeng kepalamu. :s   sebeeel ". Sepanjang perjalanan gue berdiri, kurang lebih 1 jam. Ngenes-nya, dihadapan gue berdiri, ada lelaki tinggi dengan badan gede duduk berjejer, "ga peka banget si" nyinyir gue dalam hati sebel, kaki gue serasa bekonde, pegeeeeel banget, pakai high heel pula. :'(

Sampailah di terminal Grogol 1 untuk transit ke arah Kalideres, eng..ing..eng antriiiiiiiiiinya ituuuu looooh. hhhuuuuuuuffftt . . . , ya sudah, keluar dari halte busway dan meneruskan perjalanan dengan Kopaja 12, Alhamdulillah dapat tempat duduk, lumayan. Lanjut perjalanan, aarrrgh mobil Cengkareng Kamal ngetemnya lama, akhirnya gue turun dan jalan sedikit.

Tepat pukul 19:00 baru tiba di Home Sweet Home :)
ya ampuuuun, kenapa keluarga gue pada bejejer di depan gang gini nungguin gue, "aakkkh lebay khawatirnya". Langsung ke kamar, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..., sepertinya ada perang dunia ke-4 di kamar gue, acak-acakan, eeeeerrrrrgh baru juga pulang, sebeeeeeel gue." yaudah lah marahnya nati aja, gue mau curhat dulu sama Allah, belum Shalat. Bergegas untuk wudhu dan Shalat, Selesai. Makan. Tiba-tiba si Salman (ade gue) "ka Aman dikasih air suci, kata bu Sofiah biar Aman pinter", untung gue ga' keselek denger cerita si Salman. "Duduk dah", "kenapa ka?", "Duduk, kaka bilang duduk", akhirnya si Salman duduk. OK, baru deh gue ngomong, "dasar Utut (panggilan kesayangan si Salman di rumah) kurang pinteeeeerrr, dengerin yaa! kalo mau pinter yaa belajar!, Utut mau minum air suci dari seluruh penjuru dunia pun, kalau Utut ga belajar, tetep aja ga bakalan pinter. kalo mau pinter ya belajar, bukan air lu tenggak. ngerttiiiiii....." emosi kadang gue ngadepin anak yang satu ini di rumah, malesnya itu loh ga ketulungan, ampuuuuuun dah. "tapi kata bu Sofiah gitu ka" coba membela diri dia, "Bodoooo". Dan akhirnya dia memilih singgah dari tempat duduknya, bikin nafsu makan gue nambah aje ni anak.

Selesai makan, kembali ke kamar lagi. Dan bertanya "siapa yang abis ngajarah kamar gue, engga diberesin?" tanya gue dengan nada agak sedikit marah buat kaka-kaka gue yang lagi asik nonton TV. Iin (kaka pertama gue) ngacung, "gue, kenapa emang?" malah marahan dia, harusnya kan yang marah gue, kan gue yang jadi korban, isshhhq sebeeel gue. "ngapain lo ain (panggilan akrab buat kaka pertama gue di rumah), ga diberesin, acak-acakan semuanya, itu kan kamar gue, privasi tuuuh, parraaah....". "gue nyari ijazah lo, buat data kelengkapan, mau di kirim ke DEPAG", jawabnya ga kalah ninggi nadanya. "bisa kali rapiin lagi, ga usah diacak-acak", belum hilang sebelnya gue sama sikapnya, gue malah diamprokin berkas, disuruh tanda tangan. "tanda tangan ni, cepetan", "apaan? absen?, kan gue bilang gue cuti selama PPKT", "tanda tangan aja, banyak bacot" sikee malah marahan dia, harusnya kan gue yang marah. Set..set..set..., "sejak kapan gue naek jabatan jadi bendahara?, ko gue ga tau?" banyak tanda tanya di otak gue. "udah aja tanda tangan, kalo lu ga tanda tangan entar nih dana ga bakalan bisa turun", jelas kata kaka gue. weeew..., berarti tanda tangan gue bernilai juga yaa, ga nyangka, ahaaaay udeh kaya orang apa tauuu.

Ke kamar, stel kipas angin, buka laptop. Tiba-tiba mata gue melirik ke sebelah kanan tumpukan berkas "apaan nih?" ternyata surat dari EMIS PENDIS dari KEMENAG tugas update data sekolah dengan deadline tanggal 12 April 2013. "Ampuuuuuuuun..., perasaan gue udah bilang cuti dari bulan Desember kemaren dan dijawab IYA, tapi kenapa ini tugas ada di kamar gue", gue cuma bisa geleng-geleng kepala, ampuuuun pusiiiingnya. Dan ternyata bukan 1 berkas itu, ada lagi. Setumpuk nilai ujian praktek dan UAMBN juga ikut hadir menanti gue, "Ya Allah..., cuti mah cuti, iyah mah iyah dijawab, tugas mah tetep aje setumpuk, gue bingung padahal ada S.Kom loh di sekolah, ko kenapa tugas kaya gini yang menurut gue engga terlalu sulit banget, masih harus manggil gue yang lagi ambil cuti", tanda tanya besar di kepala gue, ga habis pikir, nyebelin banget. huuuuuftt hari ini kaya permen nano-nano ya Allah, ramai rasanyaaaaa.

"Jika kau rasakan beratnya kaki menapak dan letihnya bersabar
Itulah indikasi jawaban dari pertanyaan "mengapa perjuangan itu pahit?"
Karena Surga itu manis :)
Janganlah hanya meminta kepada Allah untuk meringankan bebanmu
Tapi, mintalah juga agar Allah menguatkan pundakmu.
Dalam kesakitan, teruji kesabaran.
Dalam perjuangan, teruji keikhlasan."

Ya Allah..., indahkanlah hariku esok dan seterusnya. Semoga esok lebih baik dari hari ini, biarkan aku lelap dalam tidurku dan beri aku kesempatan untuk merasakan kembali manisnya rasa kehidupan. amiin. . . . .


Salam keikhlasan
Khaira Sahl