Rabu, 22 Agustus 2012

Segenggam Garam

Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirudung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya masam. Tamu itu seperti orang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Orang tua bijak itu mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan, "Coba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya..." ujar pak tua.

Lalu anak muda itu meminumnya dan mengatakan, "Pahit, pahit sekali", jawab anak muda itu sambil meludah kesamping karena tidak kuat menahan rasa pahit itu.

Pak tua itu pun tersenyum. Ia lalu mengajak anak muda itu untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu jalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang sangat jernih dan tenang.

Pak tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya permukaan air hingga tercipta gelombang riak air, yang mengusik ketenangan telaga itu. "coba ambil air dari telaga itu, dan minumlah!" saat pemuda itu selesai meneguk air, orang tua itu kembali bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar", sahut anak muda. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu", tanya orang tua itu lagi. "tidak", jawab si anak muda.

Dengan penuh bijak pak tua itu menepuk-nepuk punggung anak muda tersebut. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu, "Anak muda dengarlah, pahit kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."

"Tapi pahit yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan, tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan pahit dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Orang tua meneruskan nasihatnya, "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kau menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar pada hari itu. Dan orang tua bijak itu kembali menyimpan "Segenggam Garam", untuk anak muda lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar